Sentimen Negatif Di Bursa Efek, pertumbuhan manufaktur China lambat

Pekerja melintas di depan layar yang memperlihatkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 23 April 2021.

Pekerja melintas di depan layar yang memperlihatkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 23 April 2021.

Salah satu sentimen yang menarik perhatian investor adalah fakta bahwa pertumbuhan sektor manufaktur China lebih lambat dari yang diantisipasi.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melambat di awal bulan ini. Musim rilis laporan keuangan emiten mungkin masih diwarnai dengan hasil yang buruk, sehingga emiten tidak dapat menghasilkan sentimen positif di pasar saham.

Okie Ardiastama, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, mengatakan salah satu sektor yang diantisipasi investor adalah perbankan. “Namun, pada kuartal I 2021, kinerja perbankan emiten melambat sehingga menurunkan laju IHSG,” ujarnya kemarin.

Menurut Okie, kesadaran akan hasil yang tidak sesuai ekspektasi berdampak pada aktivitas transaksi pelaku pasar. Hingga pekan lalu, investor internasional masih terus membukukan penjualan bersih yang mayoritas di saham perbankan. Indeks turun 0,35 persen pekan lalu, ditutup pada 5.995,62 pada hari Jumat. Aktivitas jual bersih investor internasional mencapai Rp 578,40 miliar. Asing mengeluarkan mayoritas sahamnya di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) senilai total Rp 738,4 miliar.

Pekerja membersihkan papan reklame Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Cililitan, Jakarta, 22 Februari 2021.

“Investor kini tengah mengantisipasi rilis hasil manufaktur PMI (Purchasing Manager Index), inflasi, dan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2021,” jelasnya. Okie memperkirakan indeks akan memiliki potensi upside yang minimal minggu ini, yaitu antara 5.953-6.115.

Menurut Muhammad Syahrizannas, Analis Teknikal BCA Sekuritas, perhatian investor tidak hanya tertuju pada sentimen domestik, tetapi juga sentimen global. Salah satu sentimen yang menarik perhatian investor adalah fakta bahwa pertumbuhan sektor manufaktur China lebih lambat dari yang diantisipasi. “Hal ini membuat investor menjadi waspada,” ucapnya. PMI manufaktur China turun menjadi 51,1 pada April 2021 dari 51,9 bulan sebelumnya.

Kekhawatiran atas peningkatan jumlah kasus Covid-19 di sejumlah negara, termasuk India, Turki, dan Jepang, menjadi sentimen global lainnya yang terus dipantau pelaku pasar. Akibatnya, ada kemungkinan indeks akan terus berfluktuasi antara 5.900 dan 6.000, ”jelas Syahrizannas.

Petugas mengelola jaringan internet PT Telkom Indonesia di Perumahan Pondok Karya.

Robertus Yanuar Hardy, Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas, menjelaskan tren lesunya indeks pada April ini terutama disebabkan dana investor asing yang keluar dari Indonesia dan kembali ke negara maju, terutama Amerika Serikat. Ini adalah reaksi terhadap pengumuman bank sentral AS (Fed) bahwa pembelian obligasi tidak akan berkurang dalam waktu dekat.

“Pada Mei, indeks diperkirakan akan diperdagangkan sideways dengan kecenderungan melemah antara 5.850 dan 6.100,” ujarnya. Seperti yang lazim menjelang Idul Fitri, tambah Robertus, transaksi bursa diperkirakan akan semakin sepi. Alhasil, IHSG akan terus merosot.

Sementara itu, emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih akan mengalami tekanan pada bulan ini. Menurut Alfred Nainggolan, Kepala Riset Praus Kapital, kapitalisasi 20 BUMN turun menjadi Rp 22 triliun pada kuartal I 2021. “Dari dua puluh, hanya beberapa emiten yang terus naik, termasuk PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Timah Tbk (TINS), ”jelasnya. Farmasi dan utilitas adalah dua industri yang diperkirakan akan mengalami koreksi atau penurunan pasar yang paling parah.

Exit mobile version