Pulau Plastik Film, Gede Robi vokalis band rock Navicula

Pulau Plastik Film

Pulau Plastik Film

Pulau Plastik mengikuti tiga karakter saat mereka memerangi masalah sampah plastik. Film dokumenter satu setengah jam ini menyajikan statistik dan angka dari berbagai kota.

“Saya mengumpulkan sedotan sebanyak ini dalam waktu kurang dari lima menit,” kata Gede Robi, vokalis band rock asal Bali, Navicula, memegang dua sedotan di tangannya. Robi mengumpulkan begitu banyak sedotan di pantai Bali. Di kesempatan lain, sembari bersiap bermain gitar, Robi menginformasikan kepada ribuan penggemarnya di depan panggung bahwa Indonesia merupakan penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia.

Poster film Pulau Plastik

Prigi Arisandi, ahli biologi dan penjaga sungai asal Jawa Timur, juga muncul membedah ikan untuk mencari sesuatu. Sementara itu, Tiza Mafira, lulusan Universitas Harvard baru-baru ini mengilustrasikan perjalanan dari satu lembar plastik.

Ketiga individu ini adalah karakter sentral dalam film dokumenter Pulau Plastik, sebuah teaser yang baru-baru ini dirilis di laman YouTube pembuat film tersebut. Film Visinema Pictures akan diputar dalam waktu dekat. Pulau Plastik adalah film berdurasi 1,5 jam yang disutradarai oleh Dandhy Laksono dan diproduksi oleh Lakota Moiradan dan Angga Dwimas Sasongko, dengan Ewa Wojkowska sebagai produser eksekutif.

Mereka berjanji bahwa film bergaya dokumenter ini akan menjadi film yang serius namun mengasyikkan, dengan musik gerak sebagai pengiringnya. Menurut Angga, film ini merupakan sebuah karya yang signifikan. Menurut Angga, dua sutradara yang menggarap film ini memiliki visi dan kedalaman yang diperlukan untuk menangani subjek tersebut. “Komitmen Robi terhadap inisiatif juga kritis dan harus diperjuangkan. Selebihnya adalah kegelisahan pribadi saya dan keistimewaan Visinema bisa menjadi bagian dari,” kata Angga baru-baru ini dalam siaran pers yang diperoleh Tempo.

Cuplikan film Pulau Plastik

Visinema Pictures, Kopernik, Akarumput, dan Watchdoc berkolaborasi dalam film Pulau Plastik membahas pencemaran sampah plastik di Pulau Bali dan sekitarnya. Plastik, yang dimulai sebagai alat untuk mengurangi deforestasi, telah berkembang menjadi epidemi global modern, diperburuk oleh kebiasaan perilaku masyarakat dan gaya hidup konsumtif.

Sebelum rilis teatrikalnya, film ini diproduksi sebagai serial dokumenter untuk stasiun televisi lokal Bali dan komunitas. Seri ini dibuat untuk meningkatkan kesadaran dan tekanan terhadap krisis sampah Bali. “Kampanye film dengan penekanan regional,” kata Dandhy kepada Tempo, Jumat 16 April 2021. Pada 2018, produser Watchdoc mulai mengembangkan serial dokumenter untuk stasiun televisi tersebut.

Akibat respon positif terhadap film ini, Visinema Pictures menyatakan minatnya untuk bermitra sebelum disepakati untuk membuat film dokumenter untuk layar lebar. Mereka memperbesar cakupan film, lokasi syuting, dan pemerannya. Dandhy dan Rahung mulai berkolaborasi. Produksi film tersebut berlangsung antara 2019 dan 2021. Foto-fotonya diambil di berbagai kota di Bali dan Jawa.

Cuplikan film Pulau Plastik

Tiga protagonis film tersebut saling melengkapi, mulai dari ilmuwan hingga makhluk luar angkasa, penulis, dan pelobi kebijakan. “Kami yakin ketiga sosok ini sangat ampuh. Ini bukan perbaikan sementara, tapi sudah bergulat dengan masalah sampah plastik,” jelas Dandhy.

Mereka mengumpulkan bahan pengambilan gambar selama dua tahun untuk film ini dari hasil penelitian pada berbagai sampel, termasuk ikan, air minum, garam, plastik, dan feses. Mereka melakukan prosedur penembakan seperti sedang melakukan investigasi. Pasalnya, saat ini isu impor plastik tengah marak di media massa. Akibatnya, pengambilan gambar di lokasi industri tertentu yang sebelumnya tidak dibatasi menjadi lebih menantang sebagai akibat dari pengetatan. Dandhy dan Rahung, katanya, sangat mudah beradaptasi dalam hal penyutradaraan. Mereka menganut plot, dongeng yang muncul dari studi, dan tiga karakter yang menghilang seiring dengan topik.

Penonton akan diajak berjalan mengikuti jejak ketiga sosok tersebut. Selain itu, film ini mengajak masyarakat untuk memahami risiko sampah plastik dan melakukan perbaikan kecil dengan memasukkan kearifan adat. “Banyak proyek dan banyak solusi telah diusulkan. Mari kita bekerja sama mencari solusinya,” kata Ewa Wojkowska, Chief Operating Officer Kopernik.

https://youtu.be/UBw9T6IspVc
Exit mobile version